Terkait Ribuan Ha Hutan Lokal Dijual ke Pengusaha China, Camat Langkahan Enggan Dikonfirmasi Wartawan, Ada Apa

Bagikan Dong!

Aceh Utara, indometroaceh – Rj Camat Langkahan Kabupaten Aceh Utara enggan memberikan informasi kepada wartawan saat ditemui terkait adanya informasi ada ribuan hektar hutan produktif yang terletak di Desa Lubok Pusaka kawasan setempat yang akan dimanfaatkan untuk program pembukaan lahan Plasma.

Masri SP wartawan media suaraindonesia-news saat ditemui media ini mengungkapkan rasa kecewa terhadap, oknum Camat yang tak mau di konfirmasi. bahkan menurutnya, oknum Camat mengaku tak mengetahui tentang UU Pers dan tugas wartawan.

“Saya cuma mau konfirmasi karena ada info dari beberapa sumber, bahwa di Desa Leubok Pusaka ada ribuan hektar hutan produktif yang dikhabarkan telah diperjual belikan oknum kepada pengusaha China asal Singapura untuk dijadikan lahan Plasma, tapi Camat tak bersedia untuk diwawancarai,” kata Masri.

Padahal, untuk memperoleh informasi yang akurat dan berimbang, wartawan wajib melakukan penelusuran, menggali infornasi mencari data dan fakta agar berita yang disajikan berimbang, ini sudah tugas saya sebagai wartawan,” ujar Masri saat ditemui. Jum’at 21 Januari 2023.

Masri menambahkan, menurut sumber, bahwa Camat selaku Pejabat Pembuat Akta Tanah (PPAT) sedang dalam proses penerbitan Akta Tanah berdasarkan surat sporadik yang di keluarkan oleh kepala desa (Geuchik Gampong) Lubok Pusaka Kecamatan Langkahan.

Ironisnya! Rj Camat Langkahan saat saya ditemui diruang kerja untuk konfirmasi malah berang. “Sebutkan dulu sumber informasi nya, baru saya bersedia untuk di konfirmasi,” ujar Masri mengulang kalimat yang dilontarkan oknum Camat.

Bahkan, lanjutnya, Camat langkahan juga mengancam, jika ada pemberitaan dari sumber yang tidak jelas dan bertanggung jawab, akan di laporkan ke penegak hukum,” ancam Rj, kata Masri mengulang kalimat yang dilontarkan Rj.

BACA JUGA :   Bripka Marsitta Situmorang Monitoring Minyak Goreng di Desa Rimbun

Diberitakan suaraindonesia-news sebelumnya bahwa, “Lahan yang akan di jadikan PIR di bagi 2 ha/ per kavling untuk satu calon penerima yang tergabung dalam beberapa kelompok, di antara kelompok masyarakat Desa Lubok Pusaka, Kelompok Langkahan Bersatu dengan keanggotaan terdiri dari Kepala Desa/Keuchik se Langkahan, Kelompok Muspika Plus dan ada juga dari Kelompok Kabupaten,” ungkap sumber.

Setiap calon penerima lahan, di wajibkan membayar uang tunai sebesar Rp 1 juta untuk biaya penerbitan Akta Tanah, kepada Camat Langkahan. “Biaya 1 juta tersebut katanya untuk biaya pajak, administrasi dan lain nya,” sebut nya.

Setelah administrasi selesai lahan itu akan di serahkan kepada Pengusaha etnis Cina berinisial (HM) asal Sumatera Utara selaku investor, dengan perjanjian setelah 5 tahun tanah tersebut baru dikembalikan kepada pemilik tanah, dengan memotong hasil perbulan untuk modal.

Untuk jelasnya bisa ditanya dengan beberapa tokoh sentral di Kecamatan, mereka sangat berperan dalam proses PIR di Lubok Pusaka, ungkap sumber kepada wartawan beberapa waktu lalu.

Camat Langkahan dan Keuchik Desa Lubok Pusaka bersama sejumlah pihak lain nya menggagas program Perkebunan Inti Rakyat dengan memanfaatkan ribuan hektar hutan belantara dikawasan itu

Ironisnya, dalam proses penyiapan lahan program PIR tersebut tercium aroma tak sedap, bahkan diduga “mafia tanah” ikut bermain bahkan diduga turut melibatkan sejumlah oknum tertentu.

Dikutip dari suaraindonesia-news, sejumlah sumber mengungkap, bahwa sekitar 2,400 hektar hutan belantara di Desa Lubok Pusaka akan di jadikan lahan PIR, dan seluas 2,800 ha lainnya telah di ajukan TORA ke Jakarta pada medio September 2022, ungkap sumber yang meminta namanya tak dituliskan.

Hd seorang narasumber saat saat di temui wartawan di sebuah Cafe di Lhok Nibong beberapa waktu lalu mengetahui tentang rencana program PIR tersebut, bahkan ia mengaku hanya sebagai ketua Kelompok Langkahan Bersatu. “Saya tidak mengetahui lagi soal perkembangan program PIR ini, terakhir hanya ikut ke Jakarta bersama Camat untuk pengajuan TORA ke Jakarta pada bulan september tahun lalu,” ungkap Hd seraya menjelaskan tidak semua keuchik bergabung, karena banyak keuchik yang tidak tertarik.

BACA JUGA :   Polres Tebing Tinggi Lakukan Pengamanan Penyaluran BSS di Kantor Pos

“Dari 23 Keuhik hanya 15 Geuchik yang mau bergabung,” ungkap HD.

Ditanya disinggung, terkait pengutipan dana sebesar Rp 2 Juta per Geuchik. HD menjelaskan bahwa dana tersebut untuk terobosan jalan.

“Syarat awal dari pengusaha China harus ada jalan sepanjang 17 km, maka kami kutip 2 juta per geuchik untuk membuat akses jalan,” terang nya.

Ketua Forum Geuchik Langkahan ketika di konfirmasi terkait peran nya dalam proses program PIR tersebut mengaku awal nya terlibat langsung dalam proses program PIR, bahkan beberapa minggu ia juga ikut terjun ke lokasi untuk penerobosan jalan.

Bahkan dirinya mengaku telah mengeluarkan uang pribadinya sebesar 17 juta untuk biaya terobosan jalan. “Untuk terobosan jalan, kami bertiga sudah mengeluarkan uang 80 juta, uang saya sendiri sudah 17 juta, itu belum lagi biaya Akta Tanah 5 kavling 10 juta dari kas BUMG,” sebut AB.

Anehnya, tambah Ab, sampai saat ini dirinya belum mengetahui di mana lokasi tanah dan akta tanah untuk BUMG,
“Jangan kan untuk jatah BUMG, untuk saya pribadi jatah satu kavling sampai saat ini belum mengetahui nya, ” papar nya.

Sementara Camat Langkahan Rajuli berkali kali dihubungi wartawan media ini lewat hanphond genggam nya sempat terhubung, namun tidak diangkat, pesan whatshAp yang dikirimkan juga tidak dibalas hingga berita ini di turunkan.

Beri Komentar Dung!

%d blogger menyukai ini: