Camat Dinilai Gagal Membina Desa, Polemik Pemdes Pande Tak Kunjung Usai dan DD 2023 Terancam

Bagikan Dong!

Aceh Utara, indometro club – Dana Desa Gampong Pande Tahun 2023 terancam gagal cair, akibat adanya polemik sejak dua tahun lalu ditubuh pemerintah desa setempat. Tokoh masyarakat pun menilai
Camat Tanah Pasir gagal membina desa di wilayah Kabupaten Aceh Utara. Rabu (25/1/2023)

Pasalnya, beberapa tokoh masyarakat setempat mengungkap, sebanyak tujuh orang Badan Pengawas Desa (BPD) atau Tuha Peuet, terdiri dari Ketua, Wakil dan 5 anggota berhenti mendadak.

Tak hanya itu, aparatur desa pun terdiskriminasi, sehingga mereka ada yang mengundurkan diri dan bahkan ada yang diberhentikan oleh Geuchik karena dinilai provokatif dalam menjalankan tugas.

Menurut penuturan Geuchik Gampong Pande, De Junaidi atau lebih dikenal Geuchik Deje menyebut, persoalan tersebut telah terjadi dipertengahan tahun 2021 sikap Premanisme dilakukan untuk menjatuhkan Geuchik, dipaksakan untuk diberhentikan Kaur Pembangunan Gampong Pande saat itu, terhitung selama 5 bulan gaji Kaur Pembangunan diambil paksa oleh oknum ketua Pemuda dan wakil ketua pemuda Cs.

“Puncaknya pada Juli 2022, Sekelompok Preman Gampong menghimpun tanda tangan dengan berbagai cara, ada yang diancam secara verbal (kalau tidak ditanda tangani, kenduri mereka akan dikucilkan), ada yang ditipu untuk ”pencairan BLT” sehingga Mosi Tak Percaya, bisa di ajukan” kata De Junaidi.

Masyarakat yang menjadi dalang didalamnya disebut-sebut, adalah Ilyas Nurdin (Adam), A. Manaf S Raden Cs, beberapa orang dari kalangan pemuda yaitu oknum ketua dan wakil ketua Pemuda Cs serta dari kalangan Pemerintahan yaitu mantan Kadus dan Mantan Kaur Umum dari kalangan Tuha Peut yaitu Nasruddin dan Zulkarnaini berupaya melengserkan Deje dari Geuchik. Somasi pun terjadi, lembar kertas modal penuh tanda tangan warga yang ikut terpengaruh guna melengserkan Geuchik itu disampikan ke Muspika.

BACA JUGA :   Ciptakan Pilkades Aman dan Damai, Polsek Sipispis Sambangi Tokoh Masyarakat

Anehnya, belakangan terkuaklah, bahwa oknum Camat Tanah Pasir, Safri, SE dan Sekcamnya Zulkifli diduga dalam upaya konspirasi tersebut. Dimana Camat yang tak bisa lepas dari Sekcamnya itu menyarankan sekelompok pria yang disebut tokoh itu untuk membuat mosi tak percaya terhadap Geuchik.

“Katanya (Camat dan Sekcam) untuk menjatuhkan Geuchik tidak ada celah karena tidak melakukan hal yang dapat melanggar hukum, jika memang mau diupayakan, maka buat surat Mosi Tak Percaya,” kutip voice percakapan Geuchik dengan mantan Sekretaris Desa (Sekdes) Pande.

Beberapa isi point penting yang disampaikan dalam mosi tak percaya, diantaranya Geuchik jarang menghadiri acara Gampong, acara pesta warga, tidak transparan dalam mengelola dana desa.

“Banyak masalah yang terjadi di Gampong Pande, namun tidak sampai hingga ke ranah hukum, itu kenapa? Saya selalu bekerja untuk masyarakat saya, disini saya tidak mampu menyelesaikan sendiri, artinya kami bermusyawarah,” kata Deje menjelaskan.

“Mosi yang disampaikan ke Kecamatan itupun tidak saya ketahui sama sekali, apa isi. Saat dipanggil ke kecamatan pun saya masih belum tau isinya,” lanjutnya menjelaskan, saat diminta oleh Deje, hingga memphoto dokumen itu saja tidak diijinkan.

Camat Tanah Pasir, Safri, SE yang ditemui beberapa wartawan di ruang kerjanya membantah keras keterlibatan dirinya, apalagi menyarankan warga untuk membuat mosi tak percaya terhadap Geuchik Deje.

“Ini tidak benar, jusru kami yang menyelesaikan polemik tersebut, sehingga dana desa pada tahun 2022 yang sempat tersendat kemudian bisa dicairkan,” bantah Camat.

“Geuchik kami panggil waktu dan kami dari Muspika, pak Dan Ramil, Pak Kapolsek serta staf kerja kecamatan telah menyelesaikan masalah mosi yang berisikan penolakan Geuchik oleh warga,” lanjutnya.

BACA JUGA :   Polsek dan Muspika Dolok Merawan Gelar Rapat Koordinasi Tentang PMK

Sesakali telihat, Zulkifli sebagai Sekcam Tanah Pasir sedikit ikut campur jawaban camat, dimana beberapa kali terlihat memotong pembicaraan camat saat dicecar oleh wartawan.

“Kami menjelaskan, mosi tak percaya dan penekenan warga bukan suatu syarat untuk memberhentikan Geuchik sebagaimana yang atur dalam Perbup Aceh Utara No 4 Tahun 2009,” tukas Zulkifli.

Safri, SE selaku camat mengatakan tidak tau kedatangan ke Desa Pande akan berdampak demikian.

“Maksud saya, kami tidak tidak mengetahui akan ada kejadian seperti ini (rusuh),” lanjut Camat.

Saat ini desa terkait sudah tidak memiliki memiliki BPD dan aparatur desa yang kacau balau. Sementara, Geuchik mengaku para hater terus menerus menghalangi kenyawaman warga dengan menebarkan isu-isu propaganda.

“Kita akan membuat laporan ke Kabupaten, agar dana di desa ini tidak terhambat. Kami menunggu petunjuk atasan (Bupati),” tutup Camat. (tim).

Aceh 1 (79)

Beri Komentar Dung!

%d blogger menyukai ini: